tentang doa ketika senja
tentang diam ...
antara hati, gelang dan teh manis

malam ini ketika sunyi menghampiri
sesaat ada sapa menjelma tak sengaja dari sisi dunia
yang mungkin tlah hilang dalam berapa masa
namun terasa begitu lekat karena pernah ada jiwa yang menghampiri tak sengaja
kerling matanya mengiringi kepolosan alunan gerakan manis raganya
ketika secangkir teh manis menghangatkan hati
senyumnya begitu mengusik sukma yang bahkan tak mampu memendam tanya
dan ketika ia kusapa dengan bahasa kesunyian, senyumnya meluruh bagai kembang nan harum di pagi hari
lalu,
tiba-tiba isyarat langit membangkitkan pesan agar dapat bersegera menguntai alasan untuk berpisah
karena mewujudkan lukisan hati ternyata tak mesti menyatu
dan jika ada rasa walau sekedar tuk menyematkan prasasti hati,
maka gelang mungil nan menyiratkan kesederhanaan jiwa mencoba mengurai pesan indah tentang sebuah ketulusan
karena warna hati tak mesti menemui sisi indah dalam lukisan kebersamaan,
biarlah warna itu datang sekedar mencukupkan kerinduan di kala musim-musim bergulir dan mulai mengkusamkannya, walau tidak dengan ketulusannya ...
karena hati, gelang dan teh manis itu pernah saling menyapa dan membuatnya indah dalam ketegasan kesunyian hati, walau hanya hadir pada sedikit masa ...
jika malam ...

maka peluklah ia dalam kekhusyukanmu
maka lepaskanlah ia dalam abaimu
maka pasrahkanlah nafasmu pada Yang memilikinya
dan Jika malam mengajakmu terdiam,
maka tunggulah ia hingga hati tak lagi lelah tuk menyaput awan yang menghalangi rembulan mentemaramkan gelapnya ...
Sajak buku dan kertas

Tentang sesuatu ...

kepasrahan dan doa ...
Sepi

menatap dinding yang semakin menjadi tirai nan tak tersibakkan
kemudian ...
dingin malam terasa semakin menghimpit diri
bahkan ketika keleluasaan hati tak lagi menyapa
slalu saja asa setia menemani diri menjelang lelap walau sesaat ...
walau hanya dia nyata dalam mimpi yang tak nyata,
namun biarlah ... walau sejenak , mimpi itu anugerahMu jua yang tak ternilai
dan biarlah pula ... aku slalu menunggu mimpi itu menjadi semakin nyata
pun ketika malam panjang menyertainya
dan pagi pun lelah tuk kembali datang dalam kebiasaan
sajak tentang hati dan Jakarta ...

kidung indah penyempurna ibadah

hari ini kami hadir karena memaknai kasih dan sayang-Mu
hari ini kami hadir tuk menjalin keseimbangan kekuatan pemikiran dan perasaan
hari ini kami hadir tuk memaknai senyum kebahagiaan dan keharuan air mata ayah dan bunda
seperti dalam firman indah-Mu,
pernikahan ini bagai pakaian suci yang kan saling manjaga kami berdua
pakaian yang tak menghadirkan celah ketidakbaikan,
namun slalu menjaga hati tuk merajut keindahan dan kebahagiaan buat kami dan sesama
pernikahan ini adalah ruang bagi kami tuk menghadirkan ikatan sakinah yang penuh rahmah
karena akad yang kami ucapkan hari ini lebih dari sekedar ucap janji dua insan yang ingin berbagi,
namum sebuah kekhusyuan memaknai hidup baru,
dalam sebuah kidung indah penyempurna ibadah ...
untuk sahabatku mas Nur Riyanto yang sedang menjelang hari indahnya ...
Singularitas ...

jika engkau adalah sejarah,
jika engkau adalah makna, dan
jika engkau adalah ada,
maka apakah aku sebelum dan sesudahnya?
aku hanya memahamimu sebuah titik
yang berawal dari kemahaan kasih dan sayang
yang tertulis kemudian menjadi cerita
yang hampa kemudian menjadi bermakna
yang tiada kemudian menjadi ada
maka kesederhanaanku mengkatakan engkau hanya hadir sekali saja
karena kemarin, hari ini dan esok hari adalah berbeda ...
lalu,
biarlah engkau menjadi lebih hadir dan bermakna karena Sang Pemberi Makna slalu menjaga seluruh ruang hidupku pada penghayatanku tentang kehadiran nafasmu yang masih setia menyertaiku ...
Aisyah

engkau hadir pada kesunyian hati tentang indahnya warna kehidupan
senyum mungilmu bagai lukisan yang melengkapi ruang rindu kami tentang makna kelembutan berbagi
kehadiranmu tak hanya sekedar kesucian harapan, namun sebuah makna mendalam tentang keseimbangan hidup
dalam setiap doa, kami berharap engkau kelak kan menjadi bidadari yang cantik jiwa-raga dengan ketangguhan keunikan ilmu-pengetahuan yang slalu berpegang lurus pada asma-asma indah-Nya
Aisyah,
awal perjalanan hidupmu ternyata begitu berat ...
engkau bagai peri kecil yang terlampau sarat menghadirkan selaksa harapan
satu sisi sayapmu begitu berharap mampu mengepakkan pada keindahan bumi, namun sisi sayap lain tak kuasa menghadirkan kesucian diri ...
dan ketika Tuhan bersegera memanggilmu kembali di sisi-Nya
engkau pun pamit meninggalkan nafas dunia
saat itu,
terasa bumi berhenti berputar dan matahari tak bersahabat dengan kami
dan air mata pun serentak jatuh ke bumi mengiringi kepergianmu ...
engkau tak memberi kesempatan pada kami tuk berbagi tentang indahnya menatap bola matamu ketika engkau beranjak ke bersekolah di pagi hari, bermanja ketika remaja, dan duduk berbagi ketika engkau dewasa ...
Aisyah,
walau engkau tak sempat menemani kami lagi pada terbitnya mentari di esok hari, namun kami yakin Tuhan kan slalu mendekatkanmu pada nafas kami ...
Kami hanya mampu berkata dan berdoa:
“... dan peri kecil itu pun tersenyum dalam lelap panjangnya ketika Sang Penjaga Kehidupan sedang menguatkan keteguhan jiwa dan raga kami. Semoga kehadiran sesaatnya di dunia tlah membawa hikmah yang mendalam bagi kebaikan kehidupan kami, dan Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia menjadikannya bunga indah nan harum mewangi di taman surga kelak. Amien ...”
Aisyah,
kami kan slalu merindukanmu pada setiap hening kami,
temani kami dalam setiap mimpi malam indah kami,
tunggu ayah, bunda, dan Aa di surga kelak ya Nak ...
bunda dan kesunyian ...

menembus waktu pada kehampaan langkah
sayap kerinduan mengantarkan pada suatu masa
... malam kesepuluh ramadhan yang agung
ketika suara indah yang slalu menemani hidup perlahan melemah
ketika pesan terakhir meruntuhkan air mata kami ke bumi
ketika belaian lembut tergambar jelas kan menghilang
dan ketika mimpi tentang masa depan pupus sudah
cerita kehidupan terasa terhenti pada nyanyian sunyi
karena lembayung penuh warna tak lagi hadir mengindahkan pandangan
karena para ksatria menjadi lemah tanpa senyum kesahajaannya
karena perannya tak tergantikan oleh siapa pun
dan ketika terik mentari mengakhiri langkah kami
unggukan tanah dan tatapan kehilangan terasa menyatu dalam kekuatan satu jiwa
tak kan ada lagi nasi putih yang membangkitkan semangat di pagi hari
tak kan ada lagi cerita dongeng menjelang tidur
tak kan ada lagi hardikan kasih sayang menyertai kenakalan kami
yang tersisa hanya untaian doa penuh makna untuknya
dan keteguhan hati menjaga pesan-pesan indahnya
yang kan slalu menyertai langkah kami
walau kini air mata berulang menyertai ungkapan kerinduan,
dan kehampaan kebahagiaan slalu menyertai tanpa hadirnya
namun doa kami semoga di suatu masa ...
kami dapat kembali mendekap erat tubuhnya
dalam keindahan surga-Nya
tuk kembali merasakan wangi nafas sang bunda ...
selamanya ...
sajak rindu tentang harapan ...

sesaat engkau hadir pada kesunyian hati
sejenak ujarmu menyiratkan kedewasaan jiwa
walau jarak menghalau peraduan pandangan
dan waktu menggenggam hikayat berbeda,
namun bahasa hati seakan berangguk pelan mengiyakan kesamaan makna hidup
lalu ...
tiba-tiba jemari lentikmu melangkah perlahan menyusun huruf dan kata
bait-bait sederhana pun dengan tulus menawarkan cerita indah tentang rindu dan harapan
harapan itu begitu indah bagai kidung syahdu di senyap dunia
harapan itu begitu suci bagai buku takdir tak ternoda
harapan itu begitu tegas bagai tangkai kehidupan di taman surga
dan harapan itu adalah kerinduanmu pada Sang Kekasih hati ...
wahai gadis yang mensucikan dan disucikan,
mohon ampunlah ketika hati mencoba melampaui takdirmu
karena masa depan tak kan lepas dalam genggaman-Nya
karena Dialah kebenaran dan pemilik rahasia sejati
melangkahlah perlahan pada tangga kefahaman tuk menemukan kebenaran hakiki
sisihkan lebih banyak ruang dan waktu tuk mengabaikan suara sumbang tentangmu
... yang membisikkan ringkihnya onggokan bumimu ...
bahkan mungkin kau sering tersadarkan
bahwa mereka tak lebih dari pengumbar keangkuhan keterbatasan akal hati
bukankah kerendahan hatimu lebih kuat mencahayakan tentang arti kehidupan?
dan malam ini ... rindu dan harapanmu kembali terlelap dalam mimpi
ingatkah engkau, siapakah pemegang jiwa ketika mimpi menyelimuti diri?
maka bersegeralah menata akal, hati, rindu dan harapan ...
agar engkau semakin yakin, jiwa-jiwa kecil penyemangat hidupmu menjadi lebih bergairah ...
karena kelak mereka akan menjadi goresan-goresan lukisan indah hidupmu
yang dapat kau saksikan tidak sekedar dalam dongeng rindu dan harapan ...
sajak rindu untuk bunda …

semalam mataku tak terasa lelah sedikit pun menyambut fajar menyingsing
aku ingin menyaksikan kesetiaan mentari datang di pagi ini
keindahan warna spektrum cahayanya sangat jelas bercerita tentang binarnya dirimu menyambut pagi saat engkau memulai menuntunku pada nafas dunia
bunda …
aku menatapmu tersenyum kembali di pagi ini dalam khayal
kurasakan indahnya bola matamu yang mencoba menyibak lorong waktu, saat engkau mulai merangkai harapan
bunda …
aku tergesa dalam andai tuk mewangikan tubuhku melahap nasi putih bersamamu
suci putihnya bagai kilauan cahaya semangatmu tuk segera membesarkanku menjadi seorang pria
aku merindukanmu bunda …
terasa sangat berat rinduku ketika saat-saat seperti ini,
saat bumi memutar waktu dan mengingatkanku pada butiran-butiran kristal keringat pengorbananmu saat menghadirkanku ke dunia …
bunda …
aku tlah bosan mendengar cerita mereka tentang keindahan lakumu,
aku tlah bosan mendengar cerita mereka tentang damai tutur katamu,
aku tlah bosan mendengar cerita mereka tentang lembutnya belaianmu,
dan aku tlah lelah bermimpi indah denganmu bunda
karena aku hanya ingin engkau hadir saat ini …
aku ingin engkau hadir saat ini tuk bersama menyambut indahnya mentari
aku ingin engkau hadir saat ini tuk kembali menghidangkan nasi putihmu
aku ingin engkau hadir saat ini tuk mendekapku dalam damaimu
aku ingin engkau hadir saat mutiaraku ingin membelai garis wajahmu
dan aku ingin engkau hadir saat ini tuk bermain dengan riangnya cucu-cucumu kemudian mendekap mereka seperti engkau menghidangkan semesta kebahagiaan buatku
aku ingin engkau hadir saat ini bunda ...
tuk turut menemani runtuhnya butiran air mata
tuk turut merasakan selarik bahagia yang engkau harap dulu
bersama kami … walau hanya sekejap saja …

